Rabu, 15 Juni 2016

Makna Dalam Pekerjaan





 "Besi dapat berkarat karena tak terpakai, air yg stagnan akan kehilangan kemurniannya dan dalam cuaca dingin ia membeku. Seperti itu pula halnya dengan ketidakaktivan yang akan menyerap habis kekuatan pemikiran.  Leonardo Da Vinci

Beberapa waktu yang lalu saya sedang bercakap-cakap dengan kolega pada saat makan siang dengan topik pembicaraan yang ringan. Salah satu tema pembicaraan adalah tentang motivasi seseorang dalam bekerja. 

Teman saya bercerita bahwa ada salah seorang temannya yang sebenarnya dia tidak perlu bekerja lagi seumur hidupnya untuk mencari nafkah karena kekayaan yang dimiliki lebih dari cukup. Dia memiliki harta yang berlimpah, beberapa mobil mewah dengan merek yang paling murah adalah Toyota fortuner. Kalau tidak salah dengar istrinya juga memang anak pengusaha dimana setiap ¾ bulan sekali mendapat jatah 1 M dari perusahaan peninggalan ayahnya. Jadi secara materi sangat berkecukupan. Namun anehnya sang suami tetap bekerja sebagai Marketing Manager di salah satu perusahaan dengan masa kerja yang terbilang lama. 

Ada beberapa yang berkomentar kenapa masih tetap bekerja padahal  dengan santai dan berleha-leha di rumah, uang sudah mengalir ke kantong. Padalah banyak orang yang bermimpi agar dapat hidup santai tanpa perlu bekerja setiap harinya. Tidak perlu repot-repot datang ke kantor, bermacet-macetan atau bertemu dengan atasan/bawahan yang menyebalkan. 

Sejatinya fitrah manusia adalah beraktivitas, tubuh manusia kalau hanya berdiam diri saja dan tidak bergerak maka akan timbul banyak penyakit, bahkan WHO mencatat bahwa kurangnya aktivitas fisik adalah penyebab keempat tertinggi kematian di dunia. 

Begitupun dengan otak manusia yang jika tidak dipakai dan dilatih maka akan mengecil dan berkarat. Otak akan mengalami penurunan fungsi dan sang empunya akan terserang penyakit lupa ingatan atau alzeimer karena tidak mengasah otaknya tetap optimal.

Beberapa dari anda mungkin pernah diajukan pertanyaan seperti ini pada saat melakukan wawancara kerja, apa makna pekerjaan buat anda?

Bagi saya, pekerjaan bukan semata-mata mencari uang dan penghidupan tetapi lebih kepada hakikat dan fitrah manusia yaitu beraktivitas.

Senin, 08 Februari 2016

Tren Gaji Indonesia Tahun 2016


Setiap tahun beberapa lembaga HR mengeluarkan salary survey sebagai pedoman perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam menerapkan salary structure di internal mereka. Tahun 2016 ini menurut Kelly Services Indonesia, rata-rata kenaikan gaji tiap tahun adalah 8-12% dan khusus bagi karyawan yang resign dan pindah kerja ke tempat baru umumnya gaji yang diharapkan naik sebesar 25-30%.

Dalam lima tahun terakhir tingkat gaji di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup baik bila dibandingkan dengan negara-negara Asean lain, posisi yang mengalami kenaikan cukup tinggi berada pada level Middle Management (Junior Manager sampai Senior Manager). Hal ini disebabkan kebutuhan (demand) manajer yang andal amat tinggi, sementara pasokan (supply) amat terbatas.

Menurut Lembaga konsultan Boston Consulting Group dalam surveinya menyebutkan : dalam 10 – 20 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami kekurangan manajer hingga 40%. Gaji untuk level middle management di tahun 2015 rata-rata berada dikisaran 20-30 juta rupiah per bulan, 

Pada entry level, range salary juga mengalami kenaikan yang signifikan,untuk posisi Management Trainee (MT) di beberapa perusahaan dahulu berkisar 4-7 juta per bulan, sekarang dapat mencapai 10 juta. MT di FMCG (fast moving consumer goods) berada dikisaran 5-7 juta dan di sektor minyak dan gas untuk posisi MT, gaji yang ditawarkan berkisar di antara 10-20 juta. Kenaikan ini juga diakibatkan kenaikan UMP yang tinggi (UMP di Jakarta tahun 2016 adalah 3.1 juta).

Bagaimana dengan salary Anda, apakah sudah sesuai dengan ekspektasi?

Sekedar informasi, inflasi tahun 2015 lalu menurut data Biro Pusat Statistik (BPS) adakah 3.35% dan PDB tahun 2015 sekitar 4.7%.  Jadi kalau di tahun 2016 salary anda naik sekitar 7% maka itu sudah cukup baik.Dan selalu ingat bahwa Gaji Anda mencerminkan kompetensi Anda.

Senin, 01 Februari 2016

Toxic and Non-Toxic Employee



Di banyak perusahaan/organisasi, sering kita temui adanya karyawan atau anggota organisasi yang menjadi "racun" atau "virus". Biasanya perusahaan yang telah terkontaminasi karyawan "beracun" ditandai adanya tukang "nyinyir", pendengki, penjilat, tukang adu domba atau pemalas. Orang-orang seperti itu memiliki kinerja atau performance yang rendah yang mengakibatkan produktifitas team menurun sehingga tujuan organisasi tidak tercapai.

Tahukan anda berapa harga yang harus dibayar oleh perusahaan karena merekrut karyawan yang bertipe "racun" itu?

Menurut penelitian, dengan merekrut "toxic employee" maka perusahaan telah merugi sejumlah 
12.800 USD. Angka yang sangat besar itu dikarenakan toxic employee dapat mempengaruhi lingkungan sekitarnya menjadi buruk, memicu karyawan baik resign meninggalkan perusahaan lebih banyak dan sering yang berujung pada menurunnya omset perusahaan karena mengurangi produktifitas semua orang di sekitar mereka.


Karyawan yang menjadi virus di tempat kerja umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Mereka enggan untuk beradaptasi dengan segala hal yang baru, selalu merasa diri paling benar dan sangat anti dengan adanya perubahan.
  2. Toxic employee biasanya sangat defensif saat sedang berdiskusi dengan anggota team lainnya.
  3. Tidak memiliki kredibilitas atau kurang dipercaya oleh orang lain.


Demikian besarnya biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan dan besarnya dampak karena adanya karyawan buruk tersebut maka sudah seharusnya perusahaan membuang racun-racun agar tidak menyebar ke bagian lain. Sekiranya membuang racun dirasa terlalu sulit, maka perusahaan dapat mengkampanyekan kriteria-kriteria yang harus dimiliki oleh karyawannya agar mengurangi virus-virus yang merugikan perusahaan.

Ada 6 kriteria agar kita dapat menjadi karyawan yang menyebarkan virus-virus kebaikan atau bagi seorang recruitment dapat menjadi kriteria pada saat merekruit karyawan baru, kriteria terebut adalah:

  1. Mengetahui dan memahami values di perusahaan, serta berusaha untuk menyelaraskannya dengan value di masing-masing karyawan.
  2. Menunjukkan semangat dan antusias pada posisi yang saat ini ditempati
  3. Selalu memiliki keinginan untuk belajar dan menjadi lebih baik
  4. Memiliki hubungan komunikasi yang baik dengan karyawan laiinnya.
  5. Loyal terhadap perusahaan.
  6. Bertanggung jawab terhadap pekerjaan.


Minggu, 13 Desember 2015

Upah, Ambivalensi Hubungan Pengusaha dan Pekerja

Berbicara mengenai upah umumnya merujuk kepada imbalan atas pekerja yang melakukan pekerjaan kasar dan lebih banyak mengandalkan kekuatan fisik. Saya rasa kata ini mengalami penyempitan makna karena kalau kita merujuk kepada UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 1 ayat 30, upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Jadi menurut UU diatas, semua pekerja apapun jenisnya akan mendapat imbalan yang disebut upah. Dengan upah tersebut maka pekerja dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Upah merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya hubungan industrial antara pengusaha dan pekerja.

Pekerja menukarkan tenaga dan pikirannya dengan sejumlah upah yang ditawarkan oleh pengusaha. Pertanyaan yang timbul adalah kenapa ada peraturan mengenai upah minimum? bukankah upah merupakan cerminan dari pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan oleh seseorang. Jadi tingkat upah ditentukan oleh pekerjaan atau jasa itu sendiri. Untuk menjawab ini kita dapat merujuk kepada Permenaker No 7 tahun 2013 tentang Upah Minimum, di situ disebutkan bahwa peraturan upah mininum ditujukan untuk melindungi upah pekerja agar tdak merosot pada tingkat yang paling rendah sebagai akibat ketidakseimbangan pasar kerja.

Pada sisi pekerja maka kita dapat melihat ada poin penting yang menjadi concern dari pekerja yakni Income Security. Mereka membutuhkan kepastian dan proteksi terhadap pendapat mereka. Sekedar informasi, sesuai Permenaker No 7/2013 pasal 15 ayat 2 diyatakan bahwa upah minimum hanya berlaku bagi pekerja yang mempunyai masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun. Inilah yang menyebabkan adanya upah sundulan. Namun tidak ada peraturan mengenai upah sundulan, umumnya proporsi upah sundulan ditetapkan secara bipartit antara pengusaha dan perwakilan pekerja.

Lalu bagaimana dari sisi pengusaha?

Pengusaha membutuhkan tiga hal berikut demi kelangsungan usaha mereka, yakni:
  • Kepastian keamanan
  • Kepastian hukum
  • Kepastian usaha
Bagi pengusaha, kondisi ekonomi dan situasi politik yang stabil merupakan syarat mutlak untuk kelangsungan usaha mereka. Pengaturan upah menjadi penting karena disana terdapat suatu kepastian dari sisi biaya. Di Indonesia, industri yang ada berbasiskan pada industri padat karya. Kenaikan upah minimum yang tinggi rata-rata >15%/ tahun (2013-2014 naik 16.89%) menyebabkan semakin menyusutnya industri padat karya.

Dari sini terdapat dua kepentingan yang sangat berbeda antara pekerja dan pengusaha, kalau kita coba bayangkan maka ada dua lingkaran yang berisi masing-masing kepentingan yang saling terkait dan terdapat suatu irisan diantara lingkaran tersebut. Irisan tersebut berisi Performance, Wealth dan Sustain.

Seperti saya singgung di awal bahwa upah merupakan cerminan nilai dari pekerjaan atau jasa yang telah dilakukan maka semakin baik kinerja atau kualitas dari pekerjaan dan jasa yang dihasilkan, semakin besar pula upah yang didapat namun karena industri yang ada di Indonesia umumnya bukan berbasis padat modal maka situasi ideal tersebut belum dapat tercapai. Di titik inilah campur tangan dari pemerintah.

Baru-baru ini pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 78 tahun 2015 mengenai pengupahan. Peraturan tersebut mengatur semua hal tentang pengupahan, mulai dari jenis-jenis upah, komponen upah, dan konsep penghasilan yang layak, termasuk di dalamnya penentuan upah. Khusus mengenai upah minimum, diatur mengenai formula dalam penetapan upah minimum yakni dengan memperhitungkan tingkat inflasi nasional dengan pertumbuhan ekonomi nasional tahun berjalan. Hal ini merupakan suatu terobosan dimana pada tahun-tahun sebelumnya penetapan upah minimum ditetapkan oleh gubernur dengan rekomendasi dari dewan pengupanan provinsi yang sangat mungkin bisa dipolitisasi untuk kepentingan politik gubernur tersebut.

Sejatinya, upah merupakan ranah privat antara pemberi kerja dan pekerja. Dalam hal ini pemerintah turut campur tangan melalui kebijakan upah minimum yang bertujuan untuk melindungi pekerja agar tidak jatuh kedalam kondisi pengupahan murah. Dan dari sisi pengusaha intervensi pemerintah ini dimaksudkan untuk memberi kepastian dan melindungi dunia usaha agar dapat berkembang dan meningkatkan lapangan pekerjaan.



Kamis, 10 Desember 2015

Bermurah Hatilah Kepada Karyawan Anda



Beberapa waktu yang lalu banyak media yang memberitakan perusahaan-perusahaan yang royal kepada karyawannya dengan cara memberikan bonus uang, fasilitas atau liburan mewah sebagai penghargaan atas kinerja mereka. 

Ada Bos Tiens Group Company yang mengajak 6.400 karyawannya berlibur ke Paris. Lain lagi pemilik Virgin Group, Richard Branson, yang memberi karyawan tertentu yang baru menjadi ayah atau ibu, untuk libur 1 tahun penuh, dan digaji. Atau Savjibhai Dholakia, seorang bos dermawan asal India memberikan hadiah kepada 1.200 pekerjanya berupa sebuah mobil baru, rumah dan ratusan berlian karena para karyawan itu dianggap loyal kepada perusahaan. Jumlah uang hadiah total adalah 50 miliar rupee atau Rp 9,7 triliun

Perusahaan-perusahaan itu tentu berharap dengan benefit yang diberikan kepada karyawan tentu akan membuat mereka senang sehingga motivasi meningkat yang mengakibatkan tingginya produktifitas dan keuntungan perusahaan.

Umumnya, tindakan kedermawan yang tampak dan dapat dirasakan berbentuk materi atau uang. Namun ada banyak cara dalam memberi hadiah atau apresiasi kepada karyawan yang tidak harus berbentuk materi. Bagi karyawan yang terbiasa menghadapi macet, penawaran dari perusahaan dalam hal jam kerja fleksibel atau teleworking dari dari rumah tentu merupakan hadiah yang sangat berarti.

Mereka tidak diburu waktu setiap harinya demi hadir tepat waktu di kantor. Penerapan jam kerja yang fleksibel memungkinkan mereka mengatur waktu kerja mereka. Tidak masalah karyawan datang kantor agak siang, yang dituntut adalah hasil atas target kerja mereka. Atau penerapan konsep teleworking yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk bekerja di rumah di waktu-waktu tertentu. (pembahasan lebih lanjut mengenai teleworking dapat dilihat disini)

Kalau anda adalah pimpinan atau manager di perusahaan, cobalah sesekali memberi pujian atas hasil kerja mereka. Pujian tersebut dapat secara personal atau dilakukan di depan umum pada saat rapat misalnya. kelihatannya sepele tetapi hal itu dapat memberikan efek yang luar biasa karena bawahan anda akan merasa dihargai dan diapresiasi hasil kerjanya.

Memberikan kelonggaran dalam berpakaian kerja di hari Jumat (pakaian kasual) atau membuat papan pengumuman yang berisi "hall of fame" / pemilihan karyawan terbaik bulan ini sudah banyak dilakukan di perusahaan lain dan dapat diterapkan di kantor anda.

Di perusahaan saya saat ini, saya memberikan "entertain" kepada karyawan lainnya melalui tersedianya banyak pilihan minuman di pantry. Karyawan dapat memilih minuman favorit mereka yang telah disediakan. Ada kopi, teh, coklat, susu, atau sereal instant yang siap diminum kapan saja. Memang terlihat sepele dan kecil tetapi bagi saya ini merupakan bentuk kedermawanan dari perusahaan kepada karyawan. 

Kalau hal-hal diatas sulit untuk dilakukan dalam waktu dekat, cobalah dengan melakukan hal yang paling mudah terlebih dahulu. Silakan praktekan hal ini : ucapkan

TERIMA KASIH 

 kepada karyawan atau bawahan anda sekarang juga dan lihat reaksinya.



Rabu, 02 Desember 2015

Kemacetan, Produktivitas dan Kebahagiaan



Tahukan anda, sebuah survei yang dilangsungkan untuk indeks kesehatan Gallup-Healthways Well-Being, Inggris menyimpulkan, jarak rumah-tempat kerja yang ideal maksimalnya adalah 10 menit. Orang dengan waktu tempuh ke tempat kerja hingga tiga jam atau lebih cenderung mengalami kekhawatiran berlebihan sepanjang hari.

Dari Studi diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa semakin jauh lokasi kerja dan semakin lama perjalanan yang ditempuh akan mengakibatkan menurunnya kesehatan dan kebahagiaan seseorang. Banyak waktu terbuang sia-sia yang seharusnya dapat dipergunakan untuk hal lainnya seperti waktu untuk keluarga, beribadah, atau sosial.

Bagi karyawan yang bekerja di kota-kota besar pasti akan menjumpai yang namanya kemacetan. Banyak karyawan yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam lebih untuk pergi dan pulang dari rumah ke kantor. Pergi pagi hari dan pulang larut malam.

Saat tiba di kantor, pikiran dan tenaga sudah terkuras habis akibat perjalanan yang melelahkan sehungga produktivitas pun menurun tajam. Begitupun saat kembali ke rumah, tidak ada waktu luang yang dapat digunakan untuk kegiatan sosial atau lainnya sehingga kebahagiaan anjlok ke titik nadir.

Kebahagiaan dapat menjadi motivasi seseorang dalam bekerja, Mustahil didapat produktivitas unggul tanpa adanya motivasi dan semangat juang, Kalau dibiarkan terus menurus maka karyawan akan menjadi bosan dan tidak akan ada komitmen/keinginan untuk berkontribusi dan rasa memiliki (ownership) terhadap pekerjaan dan perusahaan.

Ada suatu konsep pemikirian yang mungkin bisa menjadi solusi bagi masalah diatas yakni konsep bekerja di rumah / teleworking. Perusahaan dapat menawarkan kepada karyawan untuk bekerja di rumah. Mungkin dapat dilakukan seminggu satu kali atau sebulan sekali. Dengan adanya kemajuan teknologi saat ini (email, skype, smarphone, dll) tidak ada hambatan atas pekerjaan dan komunikasi antar karyawan.

Bayangkan berapa banyak keuntungan yang didapat dengan penggunaan konsep ini. Produktivitas meningkat karena karyawan tidak akan terkuras energi di perjalanan dan kemacetan dapat berkurang. Karyawan dapat membagi waktu untuk bekerja, sosial, keluarga dan beristirahat secara fleksibel.

Memang tedak semua pekerjaan dapat menggunakan konsep ini. Tetapi saya rasa kebanyakan pekerjaan di perusahaan dapat mengaplikasikan konsep ini.

muram tentang produktivitas dan semangat kerja
muram tentang produktivitas dan semangat kerja
muram tentang produktivitas dan semangat kerja

muram tentang produktivitas dan semangat kerja

Selasa, 08 September 2015

Break Your Routine



Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah infografis mengenai 40 ways to stay creative dimana salah satu poinnya adalah BREAK YOUR ROUTINE (artikel dapat dibaca di sini)

Ya, pekerjaan yang monoton akan membuat otak kita beku dan bisa saja membuat kita menjadi terlena, apalagi pekerjaan yang dilakukan bukan merupakan passion kita.

Walaupun pekerjaan yang kita lakukan telah sesuai dengan SOP atau procedure, namun pekerjaan yang kita lakukan terus menerus dan berulang-ulang dapat membuat kita menjadi lengah karena mungkin terkadang kita merasa sangat ahli dengan pekerjaan tersebut sehingga ada celah kesalahan yang dapat terjadi.

Dan saya jadi teringat 2 buah film Hollywood yang bercerita tentang pelarian narapidana dari penjara yang dijaga dengan ketat. Film tersebut adalah "Escape Plan" dan "The Next Three Days". Di film itu diceritakan kalau sang tokoh utama dapat dengan leluasa melarikan diri dari para penjaga dengan memperhatikan pola pekerjaan dan tingkah laku dari para penjaga. Para penjaga itu melakukan semua hal dengan sangat disiplin dan berulang-ulang dan tokoh utama dapat melihat bahwa dalam setiap tindakan penjaga tersebut selalu ada celah yang dimungkinkan terjadinya kesalahan.

Terkadang kita perlu untuk melakukan sebuah perilaku yang berbeda, entah dalam hal berpikir atau bertindak. Dengan bertindak berbeda banyak kemungkinan yang dapat saja muncul seperti ilham, ide, rejeki atau mungkin jodoh.

Jika anda biasa menggunakan kendaraan pribadi saat beraktivitas, coba sesekali menggunakan kendaraann umum. Banyak hal yang bisa tiba-tiba muncul tanpa diduga-duga. Bisa saja saat anda naik kendaraan umum, lalu anda bertemu dengan kenalan lama sehingga bisa terjalin silaturahmi (mungkin jodoh bagi yang masih single), atau cobalah bertegur sapa dengan security atau cleaning service tempat anda bekerja dan bercakap-cakap beberapa menit dengan mereka, mungkin juga anda dapat sesekali berbelanja ke pasar tradisional dan membandingkan situasi sekeliling dengan situasi yang biasa anda temui di tempat perbelanjaan modern.

Benar bahwa kebiasaan sangat sulit diubah, bahkan kebiasaan yang baik sangat berguna dan harus diteruskan tetapi terkadang perubahan-perubahan kecil atau tindakan yang berbeda dari perilaku kita sehari-hari dapat menciptakan keajaiban-keajaiban yang tidak kita sadari.